in

NgakakNgakak TakutTakut SedihSedih SenangSenang KagetKaget KerenKeren

Rumah Pohon Buatan Kakek Tersayang

Rumah Pohon Buatan Kakek Tersayang. Libur sekolah ini aku memutuskan untuk pergi ke kampung tempat mamahku dilahirkan, yaitu kota Bogor. Semua persiapan untuk aku di sana sudah jauh-jauh hari mamah atur, jadi aku tinggal pergi ke sana. Ayah tidak bisa mengantar karena ada tugas kantor, sedangkan mamah harus menjaga adikku yang masih belum libur dari taman kanak-kanak.

Om Deni yang merupakan adik kandung mamahku memutuskan untuk mengatarku kesana, sekalian silaturahim dengan Ibu dan Bapaknya karena akan menyambut bulan puasa Ramadhan. Aku dan Om Deni naik kereta dari Jakarta menuju Bogor, sekarang disebutnya Commuter line, katanya semua kereta khusus Jabodetabek (Jakarta, Bogor, dan Bekasi) sudah terhubung satu sama lainnya yang memudahkan penumpang.

Baca juga: Suara misterius

Perjalanan dari Jakarta ke Bogor hanya ditempuh dengan 45 menit menggunakan kereta, tapi jarak dari stasiun Bogor ke rumah kakekku lumayan jauh yaitu kira-kira 2 jam jika menggunakan angkot, karena kota Bogor sekarang sudah sangat macet apalagi jika hari Sabtu dan Minggu. Kami dijemput dari stasiun menggunakan motor mang Ujang, sodara kami yang tinggal di sana sekaligus teman kecil om Deni.

Sesampainya di rumah Kakek, aku langsung mencari temanku namanya Aul, dia adalah anak tetangga rumah kakek. Setiap kali aku kesana selalu bermain dengannya dan teman-temannya. “Kek, Aul lagi ke Jakarta besok baru kembali”, ucapku. “Dimas, selama di sini kamu harus bantu kakek menjaga ladang timun kakek yang sebentar lagi akan di panen”, ucapnya sambil mengelus kepalaku. Sebelum aku pamit ke Mamah, dia berpesan agar aku bisa membantu kakek, karena dia sudah cukup tua.

Keesokan harinya aku dikejutkan dengan teriakan seseorang yang memanggil namaku dengan panggilan “Gendut,.. Ndut…! Ndut…!”, teriaknya dari depan rumah. “Hah, Aul sudah datang, asik…!”, ucapku dalam hati sambil berlari menuju sumber suara. “Aul.. masuk yuk..”, ucapku dengan senang. “Kemarin kamu ke Jakarta ngapain..?”, tanyaku. “Keluargaku ada acara jalan-jalan ke Ancol, sudah lama sekali Icha adikku ingin kesana”, jawabnya sambil duduk menemaniku sarapan pagi.

Tidak lama, kakekku mengajak kami ke ladangnya yang tidak jauh dari rumah. Ini kesempatan yang ku tunggu-tunggu, karena hanya setiap liburan sekolah aku bisa bermain-main seperti ini.

Sesampainya di ladang, kakek langsung memberikan tugas kepada kami. “Dimas dan Aul, tugasnya menjaga dan mencari hewan-hewan yang akan mengganggu timun kakek ya”, ucapnya. Aku dan Aul mengelilingi ladang dan kakek membersihkan juga merapihkan beberapa tanaman yang tiangnya roboh.

Oia bagi kalian yang belum tahu, timun atau mentimun itu tidak memiliki pohon jadi harus menggunakan kayu untuk menopangnya sehingga tidak berserakan jika nanti berbuah sehingga mudah untuk memanennya.

“Kek, aku susah mencari hewan-hewan itu.. tubuhku pendek dan tiang-tiang ini juga tinggi, bagaimana kami melihanya..?”, tanyaku ke kakek yang sedang asik bekerja. “Oia, kakek lupa.. kamu lihat di ujung bagian utara, ada pohon tinggi kan..? coba lihat ke atas, kakek sudah siapkan rumah pohon untuk kamu, di sana juga sudah ada ketapel untuk kamu”, jawab kakek sambil berteriak. “Aul, kesana yuk,…”, ajakku sambil berlari dan Aul pun mengikutiku.

Baca juga: Bunga sakura di Jepang

Rumah pohon itu tingginya sekitar 2 meter, kakek sudah menyiapkan tangga untuk kami naik. Kami bisa melihat ladang dengan leluasa karena cukup tinggi. Rumah pohon yang dibuatkan kakekku adalah sebuah bangunan sederhana yang dibuat dari kayu yang disusun rapi sebagai lantai dan diberikan atap dari jerami. “Dimas, coba lihat itu sebelah selatan sepertinya ada hewan di sana karena tiang timunnya gerak-gerak”, ucap Aul sambil menunjuk dengan tangan kecilnya. Aku langsung mengambil ketapel yang dibuat kakek dan sudah disediakan batu kecil sebagai pelurunya.

Sebelumnya aku memastikan bahwa itu bukan kakekku, ternyata memang bukan karena aku melihat kakek berada di sebelah utara ladang. Langsung saja aku mengarahkan sasaranku ke sana, wuz… kerikil itu tepat sasaran sepertinya. “Aduh!!.. Aduh!!…”, teriak seseorang yang kesakitan. “Siapa ini yang melempar batu”, teriak wanita tua. Wanita itu ternyata nenekku, aku terkejut dan berlari menuju ke sana untuk meminta maaf.

“Nenek, maafin aku ya Nek”, Nenek langsung memelukku dan mengatakan “Kamu tidak salah, yang salah Nenek tidak memberitahukan kamu kalu Nenek tidak ikut ke ladang”, jawabnya dengan senyuman. Oia ternyata nenek membawa makanan untukku dan Aul. Makanan itu aku bawa ke atas rumah pohon itu.

Kami bermain di sana dan terus waspada menjaga ladang timun Kakek. Sesekali aku berpikir betapa bahagianya bisa hidup di sini, tidak ada kebisingan yang membuat gaduh, tetapi Aul sebaliknya Dia ingin di Jakarta karena di sana enak, ramai dan banyak yang bisa di beli dan lihat katanya.

Sekian ceritaku. – Rumah Pohon Buatan Kakek Tersayang

Yuk tulis komentar kamu