in

SenangSenang

Semangat Dari Anak Pinggiran

Semangat Dari Anak Pinggiran
Semangat Dari Anak Pinggiran

Semangat Dari Anak Pinggiran. “Syifa, bangun! Waktunya sekolah, sayang! Bangun!” Teriak seorang wanita paruh baya sembari melangkah menghampiri anaknya yang masih asyik berkelana dalam alam mimpinya.

“Syifa, bangun! Nanti telat sekolah lho, bangun dong, sayang. Jangan males gitu deh!” Teriaknya lagi.

Syifa yang mulai terusik dengan teriakan-teriakan sang Ibunda nya pun perlahan membuka kelopak matanya. Mengerjap-ngerjapkan bola mata nya. Mencoba menyesuaikan pupil mata nya dengan sinar mentari yang masuk.

“Iya, Ibu. 5 menit lagi,” Pintanya. Lalu, anak perempuan itu kembali menenggelamkan tubuhnya pada selimut dan kembali menyusun mimpi nya.

“5 menit lagi? Ya ampun, Syifa, sekarang ini udah jam 06.30. Nanti kamu telat masuk sekolahnya”, balas Ibunda nya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya meratapi tingkah laku anak perempuannya itu.

“Syifa, ayo bangun!” Wanita paruh baya itu meraih selimut yang membalut tubuh Syifa.

“Aduh, Ibu, aku masih ngantuk. Aku nggak sekolah deh hari ini. Ibu bilang aja aku sakit atau aku izin gitu,” Ujarnya masih setengah tertidur.

Ibu nya menatap anak semata wayangnya itu tak percaya. Sedikit terkejut dengan apa yang anaknya itu lontarkan barusan, ”Syifa, Ibu nggak pernah ajarin kamu untuk berbohong, ya! Sekarang, ayo bangun! Jangan males gitu deh!”

“Iya iya, aku bangun,” Ucapku.

Syifa duduk di tepi kasur sembari mengucek matanya pelan. Masih mencoba untuk mengumpulkan seluruh kesadarannya.

“Kamu cepat mandi! Ibu tunggu di meja makan” perintah Ibunda nya. Syifa hanya memanggut-manggutkan kepalanya. Lalu, ia bangkit dan mulai melangkahkan kakinya.

Assyifa Amanda Putri. Seorang anak perempuan yang telah menginjak bangku SMP. Lahir di tengah keluarga berada. Seorang anak yang berkembang dengan teknologi-teknologi canggih di sekitarnya. Segala keinginannya pasti di turuti oleh kedua orang tuanya. Hal itu membuatnya seolah menjadi seorang ratu di rumahnya yang hanya bermalas-malasan. Membuatnya merasa semua yang ia miliki itu akan selamanya menjadi miliknya.

**

Syifa duduk di kursi meja makan berhadapan dengan Ibu nya. Anak perempuan itu meraih roti berisikan selai lalu melahap nya. Jemari-jemari kecil nya asyik menari-nari di atas layar touch screen miliknya itu.

“Buku udah kamu siapin?”

Tanya Ibunya yang di respon oleh anggukan dari Syifa.

“Alat tulis ada?”

Syifa mengangguk.

“PR? Udah kamu kerjakan?”

Dengan mudahnya, Syifa menggelengkan wajahnya. Sontak Ibu nya langsung mengalihkan tatapannya menatap anak perempuannya itu.

“Kamu belum ngerjain PR? Kenapa belum kamu kerjakan, Syifa? Seharian kemarin kamu ngapain aja sampai kamu nggak ngerjain PR kayak gitu?!” Tegas Ibunya.

Syifa bangkit dari duduknya. Meraih segelas susu lalu meneguknya,”Aku berangkat sekolah dulu, Bu. Assalamu’alaikum,” Syifa berlari ke luar rumah. Bergegas pergi menuju sekolahnya.

“Wa’alaikumsalam,”

**

Tiba di sekolah, Syifa mengedarkan pandangannya ke segala penjuru daerah di sekitarnya ini. Pemandangan yang sama. Pemandangan yang setiap hari selalu di tangkap oleh indra penglihatannya. Namun, pandangannya tiba-tiba terhenti pada satu titik. Ia mendapati seorang anak laki-laki dengan pakaian seadanya tengah mencoba melihat ke dalam sekolah melalui sela-sela pintu pagar. Anak itu tersenyum kagum melihat keadaan sekolah yang ia pikir sangat menyenangkan. Syifa dapat melihat raut wajah berharap pada dia. Berharap untuk dapat sekolah, sepertinya. Entah kenapa, ia iba melihat anak itu.

‘Tett.. tett.. tett’

Bel sekolah telah berbunyi. Syifa langsung mengalihkan tatapannya ke depan, berlari memasuki area sekolah.

**

“Putri,” Seru Syifa melangkah menghampiri teman baik nya itu.
Putri, yang merasa namanya terpanggil pun menoleh ke arah sumber suara. Dia tersenyum ketika mendapati Syifa di sana.

“Put, pulang bareng yuk,” Ajak Syifa.

“Tapi, aku kayaknya nggak langsung pulang deh hari ini. Soalnya Ayah mau ajak aku pergi. Kalau kamu ikut, nggak apa-apa kok. Kamu mau ikut?” Tawar Putri. Lantas Syifa mengangguk. Ia memilih untuk pergi bersama Putri dari pada harus pulang sekolah sendirian.
Putri tersenyum senang melihat respon temannya itu.

**

Mobil yang di tumpangi oleh Putri, Syifa, dan Ayah Putri pun mendarat dengan mulus di tepi jalan. Putri dan Ayahnya pun turun, di susul oleh Syifa di belakangnya. Kini, mereka tengah berada di sebuah wilayah tepi jalan. Putri dan Ayahnya melangkah memimpin di depan sana. Sedangkan, Syifa mengekor langkah Putri di belakang.

Putri menghentikan langkahnya ketika sudah sampai di tempat tujuan; tempat dengan beberapa rumah kecil yang terpadu oleh barang-barang bekas tak terpakai. Dia itu tersenyum ketika mendapati mereka yang tengah senang bermain di sana. Ia dapat kembali melihatnya. Kembali melihat wajah-wajah polos mereka.

Syifa melangkah menghampiri Putri, ”Put? Ini dimana?” tanya nya. Putri menolehkan wajahnya ke arah Syifa. Diapun tersenyum menatap Syifa.

“Ikut aku,” Putri menggenggam pergelangan tangan Syifa. Menarik nya untuk melangkah menghampiri mereka yang tengah bermain itu.

“Hallo semuanya,” sapa Putri kepada beberapa anak yang tengah bermain.

Mereka menoleh ke sumber suara lalu tersenyum riang menatap Putri, ”Kak Putri,” mereka berlarian menghampiri Putri.

“Kak Putri, aku udah ngerti sama pelajaran yang kakak kasih itu lho”

“Kak Putri, aku udah bisa baca,”

“Kak Putri, menghitung itu ternyata gampang, ya”

“Kak Putri, aku mau baca cerita dongeng lagi”

Anak-anak itu saling menumpahkan rasa senangnya ketika mereka kembali berjumpa dengan Putri. Putri di sana juga terlihat amat senang bertemu dengan anak-anak itu. Ia sibuk meladeni anak-anak itu. Putri sempat menoleh ke arah Syifa, memberikan nya isyarat untuk menghampiri nya. Namun, Syifa hanya tersenyum. Membiarkan
anak-anak itu bersama Putri.

Putri menghampiri Syifa yang tengah duduk di atas bambu panjang. Syifa yang menyadari kehadiran Putri pun menoleh ke samping lalu tersenyum menatap Putri yang menghampirinya. Lalu, Syifa kembali mengalihkan tatapannya menatap mereka.

“Mereka itu seolah terbuang. Mereka itu seolah menjadi satu pohon di antara seluruh pohon di dunia ini. Kecil, kan? Bahkan mereka lebih kecil daripada itu. Mereka itu rakyat kecil memang. Tapi, mereka juga merupakan generasi penerus Indonesia. Mereka kadang nggak di perhatiin. Nggak di perhatiin dalam bidang pendidikan, bidang kesehatan dan bidang lainnya juga. Padahal mereka itu sama kayak kita. Mereka butuh pendidikan yang layak. Mereka butuh layanan kesehatan. Mereka butuh tempat tinggal yang layak. Bukan seperti ini. Kadang, aku nggak bisa ngerti sama mereka. Mereka tetap bisa bermain, bersenang-senang, tersenyum padahal kondisi mereka kayak gini. Kalau aku jadi mereka, aku nggak tahu, apa aku kuat untuk bermain, untuk tersenyum kayak mereka ini,” Putri tersenyum tipis menatap beberapa anak yang bermain itu. Sesekali ia menyapa anak-anak itu”.

Syifa hanya dapat menatap wajah Putri dari samping. Ia dapat melihat wajah sedih Putri yang di tutup oleh senyumannya. Mencoba mencerna baik-baik setiap kata yang di lontarkan oleh Putri.

Putri menoleh ke arah Syifa ”Kita main, yuk” ajaknya pada Syifa. Syifa tersenyum lalu bangkit dan melangkah bersama Putri untuk bermain bersama dengan anak-anak itu.

“Mereka butuh pendidikan. Mereka butuh layanan kesehatan. Mereka butuh perhatian dari sekitarnya. Mereka mempunyai semangat tinggi untuk terus menjalani hidup. Mereka mempunyai keinginan dalam hidupnya. Dan, aku ingin bersama-sama mewujudkan keinginan itu”.

***

Keluarga Syifa tengah berkumpul di ruang keluarga. Menonton acara televisi yang hampir menayangkan berita liburan akhir tahun di setiap channel nya. Kedua orangtua Syifa kelihatan tidak begitu menikmati acara yang di tayangkan televisi saat ini. Sedangkan Syifa sibuk dengan ponselnya sendiri.

“Kira-kira, liburan akhir tahun ini kemana, ya?” ucap seorang pria paruh baya yang notabene adalah Ayah Syifa seraya menatap satu persatu anggota keluarga nya.

Ibu Syifa nampak tengah berpikir. Berusaha mengemukakan pendapatnya, ”Gimana kalau liburannya kita pergi ke Jogja?” ucap Ibu Syifa menatap satu persatu keluarganya itu.

“Ke Jogja? apa nggak terlalu sering, ya, kita ke Jogja?” balas Syifa yang memang tidak setuju jika liburan ke Jogja. Ayah Syifa mengangguk, menyetujui respon anaknya.

Syifa yang masih sibuk dengan ponselnya pun berusaha berpikir. Bola matanya tak terlepas dari layar ponselnya yang menampilkan beberapa foto yang sempat di ambil ketika dirinya pergi bersama dengan Putri mengunjungi tempat tinggal mereka. Syifa tersenyum memandanginya. Lalu, tiba-tiba Syifa menghentikan aktivitasnya. Terluncur sebuah ide pada benaknya tentang liburan akhir tahun saat ini. Perlahan, ia mengembangkan senyumannya dan bersiap untuk memberitahukan kedua orangtuanya tentang ide nya ini.

**

Syifa dan kedua orangtuanya turun dari mobil dengan menopang beberapa plastik putih. Syifa melangkah memimpin di depan. Sedangkan kedua orangtuanya mengekor langkahnya di belakang Syifa.
Syifa menyibakkan rerumputan tinggi yang menghalanginya. Kini, ia telah sampai di sebuah wilayah kecil tempat tinggal mereka. Sebuah tempat yang beberapa waktu lalu sempat ia kunjungi dengan Putri. Dan saat ini, ia kembali mengunjunginya lagi bersama keluarganya.

“Hai semuanya,” sapa Syifa kepada beberapa anak yang sedang sibuk bermain. Syifa berlari menghampiri beberapa anak itu dengan plastik putih yang masih di genggamnya.

Mereka menghentikan aktivitasnya sejenak lalu menyeru senang nama Syifa. Mereka pergi berhamburan menghampiri Syifa.

“Kak Syifa, nanti kita main games lagi, ya”

“Kak Syifa, aku mau buku nya lagi”

“Kak, aku mau belajar bahasa Inggris lagi”

Syifa sibuk meladeni anak-anak yang menghampirinya itu. Tak lupa, Syifa membagikan barang-barang berupa mainan yang ia bawa tadi ke mereka. Mereka terlihat sangat amat senang. Begitu pula dengan Syifa. Sedangkan, kedua orangtua Syifa sedang bercengkrama dengan penduduk sekitar. Membagikan beberapa pakaian ataupun uang untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.

**

Malam ini, malam tahun baru. Malam yang di sambut dengan sangat meriah. Malam yang memberikan kesenangan tersendiri bagi seluruh manusia di muka bumi ini.

Syifa tengah berjalan sendiri memasuki wilayah kecil ini. Hanya untuk menghirup udara segar maupun mencari obyek-obyek yang menarik. Hingga sampai suatu saat, pandangannya menangkap seorang anak laki-laki tengah duduk di atas batu cukup besar. Anak laki-laki itu… Ya…, anak laki-laki yang beberapa waktu lalu pernah ia lihat di sekolah. Dan, kini ia kembali berjumpa dengan dia.

Syifa tersenyum senang lalu ia melangkah menghampiri dia, ”Hai!” sapa nya ketika ia sudah berada di sampingnya.

Anak itu setengah terkejut akan kehadiran Syifa yang sangat asing baginya. Ia hanya menatap Syifa dengan raut wajah takut.

“Kamu nggak perlu takut. Kakak bukan orang jahat kok” ucap Syifa berusaha meyakinkan anak itu. Perlahan, wajah dia berubah. Mencoba beradaptasi dengan Syifa.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Syifa seraya duduk di samping dia.

“Aku… aku kangen sama Ayah dan Ibu ku” ucapnya seraya merundukkan wajahnya murung.

Syifa yang berada di sampingnya pun mencoba melihat wajah dia yang tertunduk ”Emang Ibu dan Ayah kamu kemana?” tanya nya.

“Ibu dan Ayahku udah nggak ada, Kak. Mereka kecelakaan pas mau daftarin aku sekolah SD waktu itu. Karena kecelakaan itu, aku nggak jadi masuk sekolah deh. Padahal, aku mau banget, Kak. Hampir setiap hari, aku pergi ke sekolah itu buat lihat anak-anak yang lainnya bermain, belajar. Dan, hampir setiap hari pula, aku lihat guru-guru ngajar di kelas lewat jendela supaya aku bisa ikut belajar” jelasnya dengan kata-kata yang cukup di mengerti oleh Syifa.

Syifa merangkul lembut pundak dia. Ia seperti bisa merasakan apa yang tengah di rasakan oleh anak itu.
Syifa mengajak anak itu untuk bermain bersama di malam tahun baru ini dengan anak-anak yang lainnya. Menghabiskan malam tahun baru ini untuk bermain bersama anak-anak pinggiran jalan ini. Menghabiskan malam tahun baru ini untuk melihat letupan-letupan kembang api yang saling beradu di bawah langit ibu kota.

**

Beberapa hari kemudian, Syifa kembali datang mengunjungi wilayah kecil pinggiran jalan kota Jakarta ini. Syifa datang mengunjungi nya dengan mempunyai satu tujuan. Ia membawa beberapa perlengkapan sekolah seperti seragam, tas, sepatu, buku-buku ataupun alat tulis lainnya.

Sesampainya di tempat yang di tuju, Syifa membagikan barang-barang yang dibawa nya kepada beberapa anak. Mereka terlihat sangat senang menerima bantuan dari Syifa berupa perlengkapan sekolah ini. Keluarga Syifa pun berniat untuk membiayai biaya selama mereka sekolah.

Syifa tersenyum ketika mendapati Dimas—anak laki-laki yang di temui nya di dekat sekolah. Ia menghampiri Dimas dengan membawa kantung plastik putih di genggamannya.

“Dimas” Syifa menyerukan nama anak itu. Dimas yang merasa namanya terpanggil pun menoleh ke arah Syifa. Anak itu tersenyum mendapati Syifa di sana. Lalu, anak itu berlari menghampiri Syifa.

“Kak Syifa” sapa nya ketika sampai di hadapan Syifa.

“Dimas, kakak punya sesuatu buat kamu,” ucap Syifa seraya mengeluarkan perlengkapan sekolah yang dibawa nya tadi.

“Taraaa!! Kakak mau kasih perlengkapan sekolah ini buat kamu. Nih, ada tas, sepatu, buku-buku, alat-alat tulis nya juga ada. Dan, ini, seragam merah putih buat kamu sekolah nanti” sambung Syifa seraya memperlihatkan perlengkapan sekolah yang ia bawa untuk Dimas.
Dimas—anak laki-laki itu terlihat sangat senang menerima pemberian dari Syifa ”Makasih, kak Syifa,” ucapnya. Dimas menatap seragam merah putih yang saat ini berada dalam genggamannya. Akhirnya, kini, ia dapat bersekolah. Ia dapat duduk di kursi kelas. Ia dapat bermain di sekolah. Dan, kini ia tak perlu belajar lewat jendela lagi. Terimakasih, Ya Tuhan.

***

Sejak saat itu, Dimas tinggal bersama dengan Syifa dan keluarganya. Segala keperluan Dimas di tanggung sepenuhnya oleh kedua orangtua Syifa. Mereka seolah menjadi sebuah keluarga yang utuh. Menjadi sebuah keluarga yang lengkap dengan kehadiran Dimas.
Syifa, banyak perubahan yang terjadi pada Syifa semenjak melihat Dimas di dekat sekolah dan Putri yang mengajaknya bertemu dengan anak-anak pinggiran itu. Ia tidak malas lagi untuk pergi sekolah. Dirumah, Syifa sering membantu Ibunya menyelesaikan pekerjaan rumah. Banyak pelajaran yang ia petik dari anak-anak pinggiran jalan itu. Salah satu nya adalah semangat dalam menjalani hidup.

Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasaNya
Bagi hambaNya yang sabar
Dan tak kenal putus asa

Sekian ceritaku Semangat Dari Anak Pinggiran

Yuk tulis komentar kamu