in

Siapa Sahabat Terbaikmu?

Siapa sahabat terbaikmu?
Siapa sahabat terbaikmu?

Siapa Sahabat Terbaikmu?

*Prolog*
Dua sahabat yang sangat akrab, diuji.
Masalah datang dan membuat sahabat lainnya bingung.
Datangnya teman baru membuat dia lebih semangat.
Hingga dia harus memilih, dengan pilihan yang sulit.
Lalu, siapa Sahabatnya yang sebenarnya? Yang selalu ada disaat dibutuhkan? Dan bisakah kedua sahabat kembali bersatu?

——————————

Waktu begitu cepat berlalu. Rembulan yang sejak malam memberikan cahayanya, kini telah menjelma menjadi sang surya yang menampakan keindahan alam semesta. Bunga-bunga di halaman depan rumah Rahma telah bermekaran, tidak sia-sia juga Rahma merawat tanaman hias tersebut. Rahma selalu ceria untuk memulai hari barunya. Tentu saja! Rahma akan bertemu dengan sahabat karibnya.

Tapi, itu dulu, sebelum takdir yang membuat sahabat karibnya itu membencinya. Sejak seminggu yang lalu, tepat ketika ulang tahun Karin, sahabatnya tiba-tiba marah dan mengatakan bahwa ia membenci Rahma.

Rahma menghebuskan nafasnya dengan sesak. Karin yang juga sahabatnya selalu mendukung Rahma, seperti saat ini.

“Ayolah Rahma, aku sangat yakin! Hanum pasti punya alasan.”

“Sudahlah, Rin. Persahabatan kami memang tidak seperti persahabatan kita.”

“Tapi, ini ujian yang lebih sulit bukan? Kemarin kalian bisa menyelesaikannya, walaupun banyak hal yang menimpamu.” Kata Karin.

“……” Rahma tidak menjawab lagi perkataan Karin. Dia masih terbayang akan persahabatan yang sudah dia jalin dengan Hanum sejak 2 tahun lalu. Dibiarkannya air mata yang sudah tidak bisa di bendung olehnya.

oo ….._-oOo-_…..oo

Dua minggu sudah berlalu. Rahma melewati berbagai rintangannya dan mulai ceria kembali. Dia juga mulai memiliki teman baru, Vania, teman sekelasnya. Disaat dia membutuhkan bantuan, Vania dan Karin akan membantunya, begitu pula sebaliknya. Disaat yang sama, dia bisa menghapus segala kenangan buruk bersama sahabat yang entah masih menganggapnya atau tidak.

“Vania!” Tegur Rahma dari kejauhan.

“Hai, Rahma!” Balas Vania.

Rahma menghampiri Vania yang terduduk di bangku taman sekolah tidak jauh darinya. Bisa dilihat, Vania sedang membuat cerpen atau puisi.

“Sedang apa?” Tanya Rahma.

“Hmm, seperti biasa, membuat puisi. Bagaimana dengan cerita yang sedang kamu buat?” Tanya balik Vania.

“Masih biasa saja. Vania,…”

“…Hidup ini mirip dengan cerita atau pun panggung sandiwara.” Kata Rahma.

“Yang tidak akan lengkap jika tidak ada tokoh baik, jahat, dan komplex.” Lanjut Vania.

“Benar.”

Keduanya menatap langit jingga bersama. Orang-orang mungkin akan mengatakan mereka adalah sahabat yang cocok. Namun, Rahma masih tidak bisa melupakan Hanum yang ia anggap masih sahabatnya.

Keesokan harinya, Karin, Vania juga Rahma makan siang bersama di kelas Karin. Tidak disangka Rahma akan bertemu dengan Hanum. Bisa dibilang, Hanum juga melihat Rahma yang begitu bahagia, dan ia tidak suka.

“Rasanya hari semakin panas. Ayo kita pergi!” Kata Hanum memerintah kedua teman dibelakangnya. Rahma yang melihatnya pun segera mengejar dan menahan lengan kanan Hanum.

“Hanum, dengarkan aku dulu! Ada yang…”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, semuanya sudah jelas, malah sangat jelas!” Kata Hanum yang memotong pembicaraan.

“Hanum! Dengarkan aku! Semua yang aku alami, sudah kuceritakan padamu, kamu juga sahabatku yang paling kupercaya, sahabat yang paling mengerti aku!” Rahma tiba-tiba menutup rapat-rapat mulutnya dengan kedua tangannya. Sepertinya dia sudah banyak bicara.

“Haha, memangnya aku percaya, pembual? Sekarang aku tanya siapa sahabat terbaikmu yang sebenarnya? Aku, Karin, atau Dia.” Tunjuk Hanum.

“Apa maksudmu?!”

“Aku menunggu jawabanmu selama 5 hari!”

o……_-oOo-_…..o

Karin dan Vania kaget setelah mendengar pertanyaan dari Hanum untuk Rahma. Bagi Rahma itu pertayaan yang sangat sulit, bahkan Rahma tidak bergeming dan mematung di sana dengan air mata yang akan tumpah.

Tiba-tiba Rahma menoleh kearah gelang yang dibuatkan oleh Hanum untuknya. Dan apa kalian tau tindakan Rahma selanjutnya? Dia menghancurkan gelang itu dan kembali ke kelas. Vania berpamitan pada Karin dan segera mengejar Rahma. Di sisi lainnya, Hanum menyurigai jahat melihat peristiwa tersebut.

“Rahma tunggu dulu!” Tegur Vania. Vania bersyukur karena Rahma menghentikkan langkahnya, tapi dia tidak berbalik dan menghadapnya.

“Vania, tolong biarkan aku sendiri. Kumohon….sebelum pertanyaannya kujawab, jangan bicara padaku.” Kata Rahma dan ia melanjutkan langkahnya. Vania sadar, Rahma yang awalnya merupakan tokoh baik kini menjelma menjadi tokoh komplex.

Tapi, apa yang bisa dia lakukan?

Pagi hari sebelum berangkat sekolah, Rahma memandang langit. Dia tidak menemukan Sang surya yang selalu menampilkan keindahan alam semesta dengan sinarnya. Dia hanya melihat awan hitam yang sudah menutupi keindahan sang surya, dan kini Raja kelana berhembus kencang.

“Sebaiknya aku membawa payung.” Kata Rahma.

Sementara itu, Vania yang sudah ada di kelas memandang angkasa dengan sendu. Dia berfikir jika cuaca hari ini begitu mirip dengan suasana hati Rahma. Karin juga berfikir demikian, ia terus menerus memohon pada Hanum agar memaafkan Rahma. Tanpa Rahma sadari, kedua temannya sangat membantunya.

Rahma menutup payungnya dan membiarkannya basah di tas khusus untuk payungnya tersebut. Dia memasuki kelas dengan gelisah. Pertayaan Hanum kemarin masih tergiang di kepalanya. Dia juga masih tidak tahu siapa sahabat sejati.

“Jangan terlalu dipikirkan.” Kata Vania menghampiri Rahma.

“Ini sangat penting bagiku.”

“Kalau begitu, pilih saja Hanum. Kalian akan bersahabat lagi bukan? Dengan begitu selesai.” Usul Vania. Rahma melihat kearahnya dan menyetujui hal itu. Akan tetapi, hatinya menolak.

“Terimakasih usulannyan, Van.”

“Sama-sama, Rahma.”

o….._-oOo-_…..o

Sejak Vania memberikan usulannya pada Rahma, ia jarang terlihat. Hal itu membuat Rahma dan Karin kebingungan, di kelas Vania tidak bisa diajak bicara dan di luar dia menghindar. Hal tersebut disadari oleh Rahma dan Karin. Mereka mengikuti Vania sejak pulang.

Penglihatannya menunjukkan Vania yang di tindas oleh Hanum. Rahma geram, dia marah. Karin yang melihatnnya pun ikut marah dan keluar dari persembunyian mereka.

“Hentikan! Jangan sakiti Vania!” Titah Karin.

“Kenapa?” Tanya Vania.

“Kebetulan sekali, ada kamu, Rahma.”

“Benar. Sangat kebetulan, aku sudah memiliki jawabannya.” Kata Rahma.

“Lalu, apa…”

“Keduanya sahabatku, Vania dan Karin. Mereka selalu ada disaat aku senang, sedih, susah, dan duka. Mereka membantuku saat itu. Dan aku tahu kebenarannya. Terimakasih Hanum, kamu pernah menjadi sahabatku, mendengar keluh kesahku, dan maaf persahabatan kita benar-benar hancur. Kita lebih baik menjadi teman biasa.” Kata Rahma mengakhiri segalanya.
Setelah kejadian itu, Hanum menyesal telah menyia-yiakan sahabatnya.

Semenjak itu juga, Rahma, Karin dan Vania selalu bersama dan berbagi cerita. Mereka juga semakin gigih mengejar tujuan mereka dalam meraih prestasi. Setelah ini, Rahma tidak akan pernah bisa meragukan sahabat-sahabatnya dan Hanum akan selalu menyesali perbuatannya.

Baca juga: Siapa sahabat terbaikmu?

-Selesai-

Banyak yang sering terjadi dalam persahabatan, yaitu: marahan, diam-diaman, dan musuh-musuhan. Jika kita ingin mempunyai teman yang baik, kita juga harus baik kepada teman, pokoknya jika kalian suka bercanda kepada mereka, kalian juga harus mau dibercadain mereka. – Siapa Sahabat Terbaikmu?

Yuk tulis komentar kamu