in

KerenKeren SenangSenang

Stay At Home – Cerita tentang Virus Corona

Stay At Home - Cerita tentang Virus Corona
Stay At Home - Cerita tentang Virus Corona

Stay At Home – Eric memandangi salju yang terus berjatuhan dari jendela kamarnya. Ia mendesah lesu, tak bersemangat seperti biasanya. Dari kamarnya ia dapat melihat boneka salju satu-satunya tahun itu dengan papan di sebelahnya. Papan yang bertuliskan “Stay At Home” yang menyuruh para penduduk di rumah selama pandemi virus corona.

Biasanya saat ini ia bermain dengan teman-temannya di sana, membuat banyak boneka salju, main perang bola salju, berseluncur, atau mengunjungi rumah Nenek Rith untuk membuat kue. Eric selalu menunggu itu sebelum musim dingin ini. Sekarang papan seluncur barunya tidak terpakai, sepatu seluncurnya juga tak tersentuh di dalam lemari.

Sekarang ada security yang selalu patroli berkeliling komplek Eric, memastikan semua warga aman di rumah. Atau bila ada yang keluar, akan ditanyai urusan apa hingga keluar disaat pandemi ini. Katanya, selama 2 hari ini adalah puncak pandemi virus Covid-19, membuat peraturan semakin ketat. lagi-lagi Eric menghela napas.

“Kakak!” Shery, adiknya mengetuk pintu kamar Eric.

“Masuk,” jawab Eric lesu.

Shery membuka pintu dan berseru, “Kak, Ibu membuat coklat panas, ayo!”

“Hm,” jawab Eric, lalu mengikuti adiknya dari belakang.

Di ruang keluarga, Ayah sedang menikmati teh-nya di sofa sambil menonton TV, Ibu sedang membawa nampan berisi dua gelas. Ayah bekerja di rumah (Work From Home – WFH).

Shery langsung mengambil gelas berwarna kuning dan duduk di sofa. Ia berusaha meniup-niup coklat panas tersebut. Sedangkan Eric duduk di dekat meja kopi sambil mengambil gelas miliknya.

“…korban positif Covid-19 terus meningkat. Sekali lagi masyarakat dihimbau untuk tetap di rumah sampai pandemi berakhir…” Suara reporter di berita.

“Wah, bahaya ya, apalagi saat musim dingin seperti ini. Virusnya bisa berkembang pesat karena tidak ada panas. Nah, Eric, Shery, kalian jangan main dulu ya,” nasihat Ibu.

“Baik!” ujar Shery.

“Lho, Eric? Kenapa lesu begitu?” tanya Ayah.

“Kakak kesal karena tidak boleh main, Yah. Biasanya kan kami bersenang-senang bersama teman-teman yang lain,” jawab Shery mewakili Eric.

“Owh, sabar ya, Eric. Saat ini tidak boleh bermain. Tetaplah di dalam rumah, untuk mengurangi korban positif corona.” Ibu membelai rambut Eric.

Eric hanya mengangguk lesu. Bagaimanapun, yang dikatakan Ibu benar. Saat pandemi seperti ini, memang seharusnya kita mematuhi aturan yang diberikan, yaitu tetap di rumah untuk mengurangi naiknya pasien yang positif virus.

“Lalu, apa yang harus dilakukan selama di rumah seperti ini, Bu?” tanya Eric setelah menyeruput coklat panasnya.

“Hmm… banyak. Kamu bisa menghubungi teman-teman mu lewat telepon, atau video call. Selain itu, Kamu pasti ada tugas sekolah, mungkin kamu juga bisa membantu Shery mengerjakan tugas sekolahnya,” saran Ibu sembari melirik Shery yang menyengir.

“Ah iya, itu benar sekali, bantu Shery ya, Kak,” ujar Shery menyetujui perkataan Ibu, membuat Eric tersenyum tipis.

“Padahal Ayah ada di rumah, sayang sekali kita tidak bisa bermain perang bola salju, atau berkemah di akhir musim dingin,” ujar Eric.

“Siapa bilang? Kita bisa melakukannya di rumah, pasti menyenangkan,” kata Ayah meyakinkan. 

Baca:
Contoh poster corona
Puisi untuk tenaga medis
Puisi tentang Virus Corona – COVID-19
Pantun Corona
Puisi tentang rindu sekolah

Eric tersenyum senang. Benar, mungkin kita bisa menikmati kegiatan bersama keluarga di rumah. Lebih baik tetap di rumah hingga pandemi selesai, daripada terkena virus corona yang malah menambah masalah, dan membuat kita tidak bisa menjalani hari-hari dengan sehat seperti biasa.

Terima kasih sudah membaca Stay At Home – Cerita tentang Virus Corona. Koreksi jika aku salah dan bagikan jika bermanfaat.

Kamu juga bisa mengirim tulisan seperti ini. Yuk, Buat Sekarang!

Yuk tulis komentar kamu