in

Tamasya Di Negeri Dongeng

Tamasya di negeri dongeng
Tamasya di negeri dongeng

Emi terkejut, dimana ia sekarang? Apakah ia bermimpi? Emi harus mengingat kembali kejadian terakhir sehingga ia bisa sampai ke tempat yang tidak ia kenal sama sekali ini. Emi menghela nafasnya, mencoba menenangkan dirinya. Terakhir kali ia berada di kamarnya. Ya..saat itu ia sangat kesal sama Mama yang tidak mengizinkannya pergi kemping bersama teman-teman.

Padahal ia sudah membayangkan asiknya kemping. Membuat api unggun dan menjelajah hutan bersama teman-teman.
Mama terlalu ketat menjaganya, ini tidak boleh, itu tidak boleh. Pulang terlalu malam tidak boleh. Emi benci mama! Andai saja ia bisa tinggal di dunia yang mana semua kemauannya bisa terlaksana. Alangkah bahagianya.

Sejak Papa meninggal, Mama selalu uring-uringan, kadang Emi meragukan Mama sayang padanya atau tidak. Mama yang jarang punya waktu untuk dirinya malah menyuruh ia melakukan hal-hal yang kurang disukainya. Emi tidak begitu suka dengan piano, padahal Emi lebih tertarik ikut pramuka yang dekat dengan alam. Tapi Mama malah menganggap itu berbahaya. Emi lebih suka basket daripada balet. Mama malah memasukan Emi ke sekolah balet.

Terakhir kali ia berada di dalam kamar, Mama mengurungnya agar ia tidak boleh ikut dengan teman-temannya kemping, lalu ia mencoba kabur dari jendela. Ya! Saat itu Emi sudah bertekad akan kabur dari rumah. Emi tidak mau tinggal sama Mamanya, ia akan mencari dunianya sendiri.

Saat turun dari jendela, Emi jatuh dan saat sadar Emi sudah berada di tempat yang sangat asing bagi Emi.

Emi memperhatikan sekelilingnya. Pohon di sana sama besar dengan dirinya. Emi bangkit dari duduk dan melangkahkan kaki menuju jalan setapak, tak jauh dari ia melangkah, ia melihat bunga mawar yang indah sekali, Emi mendekati bunga tersebut,.

“Selamat datang Emi,” suara tidak jelas asalnya itu membuat Emi terkejut, siapa yang berbicara kepadanya? Emi menjauh dari bunga tersebut

“Jangan takut, aku tidak memakanmu,” suara itu semakin mendekat.

“Si..si..siapa yang be..ber bi..bicara?” kata Emi dengan perasaan takut.

“Aku bunga yang ada di depanmu, kau sekarang berada di negeri dongeng,” bunga itu mulai bergoyang menandakan ia yang bersuara.

“Negeri dongeng? Aku pasti bermimpi” kata Emi dan mencubit tangannya “au!” katanya kesakitan saat ia mencubit tanganya.

“Kau tidak bermimpi Emi, keinginanmu terkabul, kau ingin hidup di dunia yang mana segala keinginanmu terkabul bukan? nah dunia itu yang di negeri dongeng ini. Apapun yang kau minta akan terlaksana,” kata bunga mawar misterius itu.

“Kau pasti berbohong,” kata Emi dan pergi meninggalkan bunga mawar itu.

“Hei! aku tidak berbohong, kalau kau ingin meminta sesuatu sebaiknya cepat kau jumpai Peri Biru, karena dia perimu yang bisa membuat kau mendapatkan apa yang kau inginkan. Jangan kau pergi ke hutan kegelapan, karena di sana berbahaya. Di sana ada Raksasa kesepian yang suka memakan anak-anak sepertimu,” jelas bunga mawar.

Tapi Emi tidak begitu mendengarkan perkataan bunga mawar. Pikirannya sangat kacau sekarang, apakah ini mimpi atau kenyataan dia tidak tahu, di mana dia sekarang pun dia tidak tahu. Emi terus berjalan dan Ups! Ia tersandung sesuatu, dan lututnya lecet,

“Apa tadi itu?” Emi melihat sebuah tongkat berwarna biru, tongkat ini yang membuatnya tersandung tadi. Emi mengambil tongkat itu.

“Tongkat apa ini?” gumam Emi. Tongkat itu berwarna biru dengan permata putih di atasnya.

“Mmmmm aku benar-benar Tamasya Di Negeri Dongeng,” ucap Emi sablim membawa tongkat tersebut dan melanjutkan langkah kaki hingga ia sampai di sebuah pondok kayu. Emi pun menghampiri pondok kayu tersebut.

“Permisi, apakah ada orang di dalam?” kata Emi mengetok pintu pondok kayu. Pintunya tidak terkunci, Emi masuk ke dalam. Ada sebuah meja kayu dan tempat tidur. Di atas meja tersedia banyak makanan lezat.

“Siapa kamu, masuk ke rumah orang tanpa izin yang punya rumah.”
Emi terkejut, dari luar muncul seorang anak laki-laki dengan baju serba biru.

“Hei! kau membawa tongkatku yang hilang dua hari yang lalu, kau mencurinya ya! kembalikan tongkatku itu cepat!” kata anak laki-laki tersebut.

“Enak saja aku mengambil tongkatmu. Tongkat ini kutemukan di jalan, gara-gara tongkat ini aku terjatuh dan lututku luka. Tadi aku sudah mengetuk pintu rumah ini, tapi tidak ada yang menyahut, jadi kubuka dan masuk ke dalamnya,” kata Emi menjelaskan

“O..o.. oh begitu, maaf aku sudah menuduhmu, silahkan duduk. Lihat lukamu, wah berdarah, mana tongkatku, akan ku obati kau,” kata anak laki-laki itu.

Emi menyerahkan tongkat tersebut ke anak laki-laki itu, anak laki-laki tersebut mengayunkan tongkatnya dan Flush! Seketika luka di lutut Emi sembuh bahkan tidak ada bekasnya. Emi tercengang, ia terkejut aku benar-benar Tamasya Di Negeri Dongeng.
“Bagaimana bisa?” kata Emi takjub.

“Magic, kau bukan penghuni negeri dongeng, kenalkan aku Hans, kamu siapa?” kata anak laki-laki yang bernama Hans.

“Aku Emi, aku memang tidak berasal dari negeri ini, entah bagaimana, tiba-tiba aku sudah berada di negeri ini.”

“Pasti ada suatu keinginanmu yang membuat kamu terlempar di negeri dongeng” kata Hans, “tidak ada satu orang pun bisa terlempar ke negeri dongeng tanpa ada keinginan yang kuat masuk ke sini”.

“Terakhir sebelum aku sampai di sini, aku berpikir agar aku bisa pergi ke dunia dimana tidak ada satu orangpun melarang keinginanku, aku bebas melakukan apapun yang kuinginkan,” kata Emi menjelaskan.

“Nah, keinginanmu itu yang membuatmu terlempar ke negeri dongeng, Memangnya apa yang kau inginkan?” tanya Hans

“Aku ingin melakukan semua kegiatan yang kusukai, bukan yang disukai oleh mamaku.”

“Ah! Orang tua selalu begitu, sok tahu akan keinginan anaknya. Baik, aku bisa membantumu. Tapi sebelum itu kau harus membantuku. Aku kehilangan kacamataku, kacamata itu sangat kuperlukan untuk memperkuat magic untukmu agar keinginanmu terpenuhi dan kau bisa pulang ke rumahmu. Sesampai di rumah nanti pasti ibumu mengabulkan apapun keinginanmu.”

“Betulkah? baiklah, aku akan membantumu mencari kacamatamu Hans. Di mana kau kehilangan kacamata itu?” tanya Emi

“Di hutan kegelapan” kata Hans.

“Hutan kegelapan? sepertinya aku merasakan sesuatu yang mengerikan menunggu kita di sana,” kata Emi.

“Raksasa yang kesepian, dia suka sekali menyekap anak-anak seusia kita,” kata Hans. Emi terdiam sesaat, tapi ia sudah berjanji akan membantu Hans.

”Ok Hans, ayo kita berangkat ke hutan kegelapan,” ajak Emi

“Sungguh?” kata Hans tidak percaya. Dia mengira Emi akan mengubah pikiran, ia pikir Emi tidak mau membantu dirinya, ternyata perkiraannya salah.

Emi dan Hans pun berangkat menuju hutan kegelapan. Hari sudah mulai sore, mereka sudah hampir sampai di hutan kegelapan. Hutan itu sungguh menyeramkan, dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi, tidak ada suara binatang, sangat sunyi.

“Kau masih bisa mengubah pikiranmu Emi, aku tidak keberatan kalau kau tak mau,” kata Hans.

“Hans, aku tidak keberatan, tapi kenapa kacamatamu sampai hilang di hutan kegelapan ini? apakah kau masuk ke dalamnya? untuk apa?” tanya Emi

“Hm..ceritanya panjang. Aku dulu tinggal dengan ibu angkatku, Peri Jingga, ibu kandungku telah lama meninggal, Peri Jingga lah yang mengasuhku dan mengajarkanku magic. Hingga pada sutu hari Peri Jingga menolong seekor kelinci yang terjebak di akar salah satu pohon di hutan kegelapan. Namun saat ia membebaskan kelinci itu, raksasa datang dan menangkap peri jingga. Aku mengejar raksasa tersebut, namun kacamataku hilang di tengah jalan, dan raksasa itu menghilang di kegelapan malam. Aku kehilangan orang yang paling ku sayangi, yang paling berarti dalam hidupku,” kata Hans. Emi terdiam, ia merasakan kesepian yang sama dirasakan Hans, tapi ia tak mampu menterjemahkan rasa sepi itu.

“Ayo Hans, kita harus cepat, “ lalu mereka masuk ke dalam hutan kegelapan, sesaat sebelum mereka masuk, tiba-tiba dari belakang seekor kelinci memanggil nama Hans.

“Hans! kau harus hati-hati, raksasa itu tinggal di sebuah pohon besar yang sudah tua, sebelum kau bertemu pohon itu, kau akan bertemu kelelawar penjaga, kelelawar itu haus darah. Berhati-hatilah,” kata kelinci itu.

Hans yang kaget pun menoleh ke belakang melihat ke arah kelinci itu“ok Bung Kelinci,” kata Hans.

Mereka pun mulai masuk ke dalam hutan kegelapan
“Apakah kelinci tadi yang ditolong Peri Jingga Hans?” tanya Emi.

“Iya, “ kata Hans.
Semakin ke dalam semakin gelap dan tidak ada cahaya yang masuk, Hans menerangi jalan mereka dengan tongkat magicnya. Emi merasakan bulu kuduknya merinding tatkala mendengar suara burung hantu. Iiih seram sekali.

“Sssst Emi, pelankan langkahmu,” kata Hans berbisik. “aku mendengar desis sesuatu, entah ular entah kelelawar,” kata Hans lagi “kamu tegak di belakangku, cepat.” Hans kembali berbisik, kali ini dengan nada agak tegas.

Tiba-tiba dari arah samping muncul ular besar menghadang jalan mereka.

“Ssss…sss…sss….  siapa kalian, berani sekali memasuki hutan kegelapan,” kata ular itu

“Aku Hans, aku hanya ingin mencari kacamataku yang hilang dan juga mau bertemu ibu angkatku Peri Jingga,” kata Hans

“Dan perempuan di belakangmu itu siapa sss….s….ssss….,” kata ular itu.

“Dia Emi, dia membantuku mencari kacamataku yang hilang,” kata Hans.

“Ya, aku juga ingin membantunya untuk bertemu ibu angkatnya Peri Jingga,” kata Emi.

Hans menoleh melihat Emi “benarkah ?” kata Hans.

“Tentu saja, kau juga mau membantuku bukan?” kata Emi tersenyum.

“Tolong jangan halangi kami, kami tidak ada niat mengganggu” kata Hans pada ular tersebut.

“Siapa bilang aku menghalangi kalian, aku hanya numpang lewat saja, tapi kalian harus hati-hati, tak jauh dari sini kalian akan bertemu kelelawar penghisap darah, kelelawar itu hanya bisa dilawan oleh anak yang bisa menyanyi dari hati,” kata ular tersebut dan berlalu dari hadapan mereka.

Hans dan Emi menghela nafas lega. Tapi perjalanan belum selesai, malah mungkin ini awal dari petualangan mereka. Hans dan Emi melangkahkan kakinya dan sampai pada daerah yang ditunjukan oleh sang ular tadi. Daerah yang dihuni oleh seekor kelelawar penghisap darah.

“Emi, kamu bisa nyanyi tidak, ingat kata ular tadi, kelelawar ini bisa kita kalahkan kalau ada anak yang bisa nyanyi dari hati” kata Hans berbisik

“Aku bisa, tapi nyanyi apa?” tanya Emi

“Terserah, kalau bisa, nyanyi yang mengingatkanmu sama orang yang paling kau sayangi, yang paling ingin kau temui, jadi kau bisa menyanyi dari hati,” bisik Hans lagi.

Emi memenjamkan matanya, ia teringat mama, air matanya menetes.
“he..he…he… berani sekali kalian masuk kedalam sarangku, apakah kalian tidak takut mati ah!” tiba-tiba kelewar penghisap darah muncul di hadapan mereka” persiapkan diri kalian, aku akan menghisap darah kalian, dimulai dari darah gadis muda itu dulu,” kata kelelawar itu.

“Hei Emi, aku menyuruhmu menyanyi bukan menangis!” kata Hans

Emi membuka matanya lalu menyanyi “Ambilkan bulan bu, ambilkan bulan bu, yang bersinar terang di langit, di langit bulan bersinar, cahayanya sampai ke bintang, ambilkan bulan bu untuk menyinari tidurku di malam yang gelap.”
Seketika kelelawar yang ada dihadapan mereka berteriak dan tiba-tiba tubuh kelelawar bersinar bagaikan percikan api dan meledak lalu hilang ditelan kegelapan.

“Kau berhasil Emi! nyanyian sungguh menyentuh,” kata Hans

“Terimakasih Hans,” kata Emi tersenyum

“Ayo kita lanjutkan perjalanan kita,” kata Hans.

Lalu mereka kembali berjalan menuju rumah raksasa, langkah mereka terhenti saat mereka bertemu pohon besar tua. Apakah ini rumah raksasa itu?

“Hei apa yang kalian lakukan?”
Hans dan Emi terkejut, siapa yang berbicara dengan mereka.

“Ini aku semut kecil, tepat di dekat kaki kalian,” Emi dan Hans melihat ke bawah

“Hai semut kecil, aku Hans dan Emi, kami mencari kacamataku yang hilang dan ingin bertemu ibu angkatku Peri Jingga yang diambil oleh raksasa yang tinggal di pohon itu,” kata Hans.

“Oh Peri jingga, dia baik-baik saja, Cuma raksasa terlalu egois untuk melepaskannya pergi, dan kacamatamu, disimpan oleh ibu angkatmu peri jingga.”

“Ibu angkatku selamat? Alhamdulilah,” kata Hans lega

“Raksasa itu cuma seorang raksasa yang kesepian, ia sendirian di negeri dongeng. Dengan badannya yang besar, tidak ada yang mau berteman dengannya. Selamat, kalian satu-satunya yang mampu memusnahkan kelelawar penghisap darah itu. Kelelawar itu sangat mengganggu di hutan kegelapan ini, kelelawar itu pula yang menghasut raksasa untuk menjadi jahat,”kata semut

“Jadi raksasa itu sama sekali tidak jahat?” tanya Emi

“Dia tidak jahat, hanya kesepian, karena tidak punya teman, kalau kalian mau masuk, silahkan, aku penjaga pintu ini” kata semut itu lagi.

Hans dan Emi masuk ke pohon besar itu, di dalam pohon itu Emi dan Hans bertemu raksasa dan seorang peri berwarna jingga di sampingnya.

“Hans…akhirnya sampai juga engkau di sini” Peri Jingga terkejut dan bahagia, ia memeluk Hans. Aku sangat rindu padamu nak” kata Peri Jingga.

“Maafkan aku Hans, ketika mendengar nyanyian tadi aku merasakan kehangatan di hatiku. Aku sudah bersikap tidak adil padamu, mengambil Peri Jingga dari sisimu.” kata raksasa “aku menyesal.” Hans tersenyum.

“Aku rasa kita semua bisa berteman, bukankah itu lebih baik, kau bisa mengunjungi kami kapanpun kau mau, dan kami juga bisa bermain ke rumahmu bukan?” kata Hans pada Rakasasa.

“Ekhm! Hans, selamat kamu sudah jumpa ibu angkatmu, mendapatkan kacamatamu dan juga kawan baru, rakasasa. Semoga kau tidak lupa aku,” kata Emi

Hans tertawa ”tentu saja Emi, aku tidak akan pernah melupakanmu. Nah, peralatan magicku sudah lengkap, apakah keinginanmu masih sama Emi?” tanya Hans

“Keinginanku, aku ingin pulang, memeluk mama, dan aku ingin katakan aku sayang dia,” kata Emi tersenyum.

“Baiklah, “ Hans memakai kacamatanya dan memutarkan tongkat 3 kali dan Flush!!!!, sampai jumpa Emi jika ada keinginamu lagi, maka kau akan ke negeri kami.”

__________________

“Emi! Sadar nak…Mi, ini mama. Tolong dokter, anakku tidak apa-apa bukan?”

“Tidak apa-apa bu, hanya pingsan,” jelas dokter.

Emi membuka matanya perlahan, ia melihat Mamanya yang tampak pucat dengan mata yang sembab

“Mama,” kata Emi perlahan dan menangis.

“Emi, Thank`s God, Alhamdulilah, akhirnya kau sadar,” mama memeluk Emi kuat seakan tidak mau dilepaskan.

“Maafkan Emi. Emi akan mendengarkan kata mama, tidak akan membantah lagi,” kata Emi.

“Mama yang minta maaf, jangan pernah coba kabur ya nak. Emi boleh kemping, Emi boleh basket, tapi jangan pernah tinggalkan mama ya,” kata mama mencium kening Emi

“Ya Ma,” Emi tersenyum bahagia. Terimakasih Hans. Terimakasih Negeri Dongeng.

Yuk tulis komentar kamu