in

NgakakNgakak TakutTakut SedihSedih SenangSenang KerenKeren

Uji Nyali di Lawang Sewu

Uji Nyali di Lawang Sewu
Uji Nyali di Lawang Sewu

Uji Nyali di Lawang Sewu. Hari ini aku akan berwisata ke suatu tempat yang sangat terkenal di Kota Semarang, Lawang Sewu. Aku pergi bersama Kakek dan dua orang sepupuku. Kak-Adit dan Nila, mereka adalah sepupuku yang tinggal di kota ini.

“Vik, kamu yakin nih mau ke Lawang Sewu malam ini? Ini kan malam Jum’at” tanya Kak Adit sambil menakutiku.

Ah aku kesal sekali, sejak aku bilang ingin pergi kesana kedua sepupuku ini malah semakin gencar menceritakan kisah-kisah seram tentang Lawang Sewu. Memang sih tempat ini memang terkenal dengan aura mistisnya. Bahkan acara televisi Dunia Lain pernah syuting disini.

“Hei sudah, kamu jangan nakutin Vika terus Adit” kata Kakek membelaku.

“Iya Kek, Vika mau tunjukin ke Kak-Adit sama Nila kalau aku bukan penakut” ujarku bersemangat.

Setelah maghrib aku bersiap untuk berangkat. Namun sayang, hujan lebat tiba-tiba turun. Kami pun terpaksa menunggu hujan reda. Sekitar pukul 8 malam kami baru berangkat menuju Lawang Sewu. Setibanya disana kami beruntung karena penjualan tiket hampir ditutup.

Guide yang menemani kami menjelaskan sejarah gedung ini. Gedung ini awalnya adalah kantor kereta api di jaman penjajahan Belanda dan berubah menjadi tempat penyiksaan di jaman penjajahan Jepang.

Sepertinya hanya aku yang antusias mendengarkan karena yang lain sudah pernah kesini.
“Vik, ayo kita foto-foto dulu” seru Nila
Bukannya mendengarkan penjelasan guide, dia malah sibuk mencari spot untuk berfoto.
“Hati-hati nanti ada yang ikutan loh” goda Kak Adit.

“Ih kakak nyebelin banget sih” kataku kesal.

Kami diajak melihat ruangan yang di dalamnya terdapat bunga sedap malam. Kata guide bunga itu diganti setiap 3 hari sesuai permintaan penghuni ruangan itu. Bulu kudukku mulai merinding mendengarnya, apalagi aroma bunga tercium sangat menyengat.

Kami ditunjukan arah menuju penjara bawah tanah yang biasa digunakan sebagai tempat uji nyali. Untunglah tempat itu sedang direnovasi jadi kami tidak perlu masuk ke sana.

Menuju lantai 2 , kami dapat melihat sungai di belakang gedung yang katanya dulu digunakan sebagai tempat membuang kepala para pekerja yang dipenggal di masa penjajahan Jepang. Hiiiiii seram sekali.

Tiba-tiba guide kami berkata “Yuk kita maju, ada yang mau kenalan”

“Hah siapa?” Tanyaku

“Kamu takut Vika?” Tanya Kakek

Melihat Kak-Adit juga Nila yang bersiap menggodaku aku pun menjawab dengan mantap, “ngga Kek, aku gak takut”

Kami maju perlahan, sejujurnya aku merasa deg-degan sekali saat itu. Tepat saat kami melewati sebuah ruangan, lampu mati tiba-tiba.
“Huaaaaa Kakek, itu kenapa lampunya?” Seruku sambil berlari kecil.
Guide dan yang lain malah tertawa kecil melihat tingkahku.

Selanjutnya kami diajak naik ke ruangan pembantaian yang ada di lantai 3. Ruangan itu gelap gulita. Aku mulai menapaki tangga dengan ragu.
Tiba-tiba ada satpam yang datang ke arah kami. Dia mengatakan bahwa kami harus segera turun karena sudah waktunya tutup.

Huft. Untung saja ada Pak Satpam itu sehingga aku tidak harus masuk ke ruangan menyeramkan tadi.

Saat kami berjalan keluar aku iseng bertanya kepada guide kami.
“Pak, butuh berapa lama untuk menghapal semua pintu disini?” Kataku
“Mbak mau coba? Yuk nginep disini semalam” candanya.
“Hehehehe makasih Pak, gak usah” jawabku.

“Vika, kamu gak penasaran taman tempat kita jalan menuju keluar ini dulunya apa?” Kata Nila

“Ini kuburan loh Vik dulunya” sahut Kak-Adit.

” ah pasti Kakak mau nakutin aku lagi ya?” kataku curiga.

“Bener kok Mbak, ini dulunya kuburan. Sekarang juga masih ada beberapa kerangka di bawah tanah” jelas Guide kami.

Seketika aku membeku dan berkata pada Kakek “Kek, kita cepet pulang aja yuk”

Huaaaa ternyata pengalaman ini seram sekali. Aku tidak peduli lagi jika kedua sepupuku mengejekku penakut. Aku cuma ingin segera pulang dari tempat itu.

-Tamat-  Uji Nyali di Lawang Sewu

Yuk tulis komentar kamu